Kisahmu bagaimana???? sesuai yang kau harapkan kah??? bahagia, sedih, tertawa, atau justru menangis seperti halnya diriku???
Cahaya Bidadari
CINTA ADALAH KEBAHAGIAAN, MENYENANGKAN, KEPERCAYAAN, PERSAHABATAN DAN KASIH SAYANG... AKU MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA
Minggu, 23 September 2012
Kisah
Hidup di dunia ini benarkah penuh perjuangan. Seperti apa perjuangan itu? Aku pun belum pernah merasakannya. Atau mungkin aku yang terlalu masa bodoh dengan kehidupan ini atau terlalu penuh apa adanya. Kisahku biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Membosankan??? Pasti!!!
Aku pun jenuh dengan kehidupan ini. Terutama kisah dalam hidupku. Tenang menghanyutkan hingga membuatku mabuk tak tentu arah tanpa tujuan. Aku berhenti di tengah jalan.
Selasa, 04 September 2012
Cahaya
Cahaya itu mulai terlihat
Menembus bongkahan gelap
Dingin masih terasa
Lama kelamaan cahaya itu akan
menghangatkan apa yang diterpanya
Moga engkau selalu bahagia
Semangat
Sabar
Senyum
Jumat, 10 Agustus 2012
Cahaya
Di setiap tempat
dalam hidup ini
engkau pasti akan selalu
bertemu kegelapan...
Kini saatnya
menyalakan sinar
dari dalam dirimu...
Karena hakekat sebuah keindahan
ada pada setiap detik
yang dapat membahagiakan selain dirimu...
dalam hidup ini
engkau pasti akan selalu
bertemu kegelapan...
Kini saatnya
menyalakan sinar
dari dalam dirimu...
Karena hakekat sebuah keindahan
ada pada setiap detik
yang dapat membahagiakan selain dirimu...
Jumat, 23 Maret 2012
Terima Kasih
Q ingin berterima kasih sekali lagi padamu
Untuk mencintaiku
Walaupun waktu telah berlalu
Dimana bertahun-tahun Qt tlah jadi satu
Tidak ada penjelasan karna Qt berdua mengerti
Tak ingin apa-apa lagi
Dunia ini akan lebih terang karna kau disini
Dan membuat hari ini jadi mungkin
Kau adalah inspirasiku
Kau adalah api yang menyala di hatiku
Meski pada saat Q terjatuh atau tersesat dan kecewa
Q tahu Q memilikimu didekatku
Kau adalah harapanku
Dan tidak ada yang bisa menjelaskannya lebih baik
Hanya ada satu kata
Satu kata yang ingin Q katakan padamu atas cintamu
Terima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam
Kamis, 29 Desember 2011
Make-Up Muslimah
Setiap wanita diciptakan dalam keadaan cantik, seperti indahnya bunga yang sedang mekar. Namun kecantikan wanita bermacam-macam sebagaimana bunga yang terdapat di sekitar kita. Apakah anda merasa belum layak untuk dikatakan cantik, kecuali setelah anda make up atau melakukan perbaikan dan perawatan luar dalam?. Agar anda tampak lebih cantik dan menarik, lakukanlah resep ini:
• Jadikanlah “Ghaddul Bashar” (menundukkan pandangan) sebagai hiasan kedua mata anda, niscaya akan semakin bening dan jernih.
• Oleskan “Lipstik Kejujuran” pada bibir anda niscaya semakin manis.
• Gunakanlah “Pemerah Pipi” anda dengan kosmetika yang terbuat dari rasa malu yang dijual di salon iman.
• Pakailah “Sabun Istighfar” untuk menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.
• Rawatlah rambut anda dengan “Jilbab Islami” yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki asing yang membahayakan.
• Pakailah “Giwang Kesopanan” pada dua buah telinga anda.
• Hiasilah kedua tangan anda dengan tawadlu’ dan jari-jari anda dengan “Cincin Persahabatan”.
• Sebaik-baik kalung yang anda pakai adalah “Kalung Kesucian”.
• Bedakilah wajahmu dengan “air wudlu” niscaya akan bercahaya di akhirat.
Yakinlah bahwa anda terlahir cantik, sungguh sangat cantik, karena setiap orang dalam kelompoknya adalah cantik, meskipun terkadang menginginkan hal lain yang dia harapkan. Permasalahannya adalah apakah anda tidak mengetahui seluruh bentuk kecantikan atau anda tidak bisa ikhlas menerima keadaan diri anda sendiri atau mungkin anda tidak mengetahui bagaimana dan kapan anda harus memperlihatkan kecantikan anda. Mari kita penuhi hati kita dengan kecantikan karena Allah telah menjadikan anda cantik bahkan kecantikan anda tidak dimiliki oleh wanita lain.
• Jadikanlah “Ghaddul Bashar” (menundukkan pandangan) sebagai hiasan kedua mata anda, niscaya akan semakin bening dan jernih.
• Oleskan “Lipstik Kejujuran” pada bibir anda niscaya semakin manis.
• Gunakanlah “Pemerah Pipi” anda dengan kosmetika yang terbuat dari rasa malu yang dijual di salon iman.
• Pakailah “Sabun Istighfar” untuk menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.
• Rawatlah rambut anda dengan “Jilbab Islami” yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki asing yang membahayakan.
• Pakailah “Giwang Kesopanan” pada dua buah telinga anda.
• Hiasilah kedua tangan anda dengan tawadlu’ dan jari-jari anda dengan “Cincin Persahabatan”.
• Sebaik-baik kalung yang anda pakai adalah “Kalung Kesucian”.
• Bedakilah wajahmu dengan “air wudlu” niscaya akan bercahaya di akhirat.
Yakinlah bahwa anda terlahir cantik, sungguh sangat cantik, karena setiap orang dalam kelompoknya adalah cantik, meskipun terkadang menginginkan hal lain yang dia harapkan. Permasalahannya adalah apakah anda tidak mengetahui seluruh bentuk kecantikan atau anda tidak bisa ikhlas menerima keadaan diri anda sendiri atau mungkin anda tidak mengetahui bagaimana dan kapan anda harus memperlihatkan kecantikan anda. Mari kita penuhi hati kita dengan kecantikan karena Allah telah menjadikan anda cantik bahkan kecantikan anda tidak dimiliki oleh wanita lain.
Selasa, 15 November 2011
Temukan Bahagiamu
Kapan terakhir kita merasakan bahagia? Kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang kita dambakan selama ini. Apakah saat bersama orang-orang yang kita cintai atau bertemu dengan seseorang yang selama ini kita tunggu kedatangannya? Kita mampu mengeluarkan airmata saat bahagia, kita mampu mencurahkan semua perhatian kita saat bahagia, tapi apakah kita pernah merasakan kebahagiaan itu sendiri dalam hati kita?
Bertahun-tahun kita hidup dengan seorang sahabat, sahabat di saat suka dan duka, selalu ada saat kita membutuhkannya, menenangkan hati kita saat kita butuh sandaran, tentu kita akan sangat bahagia mempunyai sahabat seperti itu. Namun, ketika persahabatan itu hancur karena masalah sepele kita merasa hidup kita terasa menyedihkan hingga tak ada sandaran yang kita punya. Kebahagiaan atau kesedihan seperti apakah yang ada dalam hati kita?
Ketika kita benar-benar mencintai atau menyayangi seseorang, kita merasa sangat bahagia dan tak mau kehilangan dia. Kita merasa cukup akan kehadirannya dan kita merasa bahagia akan hal itu. Namun, ketika cinta itu berubah tak seindah permulaannya, ketika hati mulai berpaling, kita akan merasa sedih seakan-akan dunia berhenti berputar. Dimanapun hanya ada bayangannya yang selalu hadir mengganggu, dimanakah kebahagiaan yang pernah ada dalam hati kita? Kenapa terhapus hanya karena kebahagiaan itu tak berpihak kepada kita? Haruskah kita bersedih sepanjang hari meratapi kebahagiaan kita yang hilang atau tak kunjung datang?
Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, segala usaha dan doa kita kerahkan tuk mencapainya. Usaha yang tiada henti, tak kenal lelah, tak kenal pantang menyerah, doa yang kita panjatkan tiap waktu untuk hasil yang terbaik. Kita melakukan semua itu dengan perasaan bahagia seakan-akan kita akan berhasil mencapainya. Namun ketika semua itu tak sesuai harapan, kegagalan di pelupuk mata, kesedihan lah yang membayangi hidup kita. Hidup kita hilang di telan bumi. Semangat kita yang semula giat luruh tak tersisa. Hanya membekaskan serpihan-serpihan yang tiada arti. Kenapa kebahagiaan itu menguap begitu saja?
Dimana sebenarnya letak kebahagiaan sejati kita? Dimana sebenarnya naluri keindahan kita menikmati proses dan bukan hasil? Sahabat kita, kekasih kita, harapan kita, impian kita, mereka adalah sarana kebahagiaan kita. Dari proses kita belajar bahagia dan membahagiakan orang lain. Ketika semua itu tak sesuai harapan kita, ingatlah kebaikan sahabat kita yang selalu ada untuk kita, ingatlah masa-masa bahagia bersama kekasih kita yang selalu menjadikan punggungnya tuk sandaran kita, ingatlah masa-masa perjuangan kita saat kita berharap tuk meraih sesuatu. Adapun sekarang yang berubah, anggap saja semua itu adalah proses kehidupan agar kita belajar tuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya.
Carilah kebahagiaan itu dalam hati kita. Hati kita lah yang mampu menilai seberapa besar kebahagiaan itu dalam diri kita. Senyum tak selalu menandakan kebahagiaan tapi kebahagiaan akan menghadirkan senyum yang indah yang bisa dirasakan orang di sekitar kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam hati kita dengan menerima apa yang telah ditetapkan olehNya. Kebahagiaan yang sejati selalu disandarkan pada Allah Swt. Tetaplah semangat menjalani hidup ini karena kebahagiaan itu tak akan datang sendiri kecuali kita yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri.
Ketika kita benar-benar mencintai atau menyayangi seseorang, kita merasa sangat bahagia dan tak mau kehilangan dia. Kita merasa cukup akan kehadirannya dan kita merasa bahagia akan hal itu. Namun, ketika cinta itu berubah tak seindah permulaannya, ketika hati mulai berpaling, kita akan merasa sedih seakan-akan dunia berhenti berputar. Dimanapun hanya ada bayangannya yang selalu hadir mengganggu, dimanakah kebahagiaan yang pernah ada dalam hati kita? Kenapa terhapus hanya karena kebahagiaan itu tak berpihak kepada kita? Haruskah kita bersedih sepanjang hari meratapi kebahagiaan kita yang hilang atau tak kunjung datang?
Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, segala usaha dan doa kita kerahkan tuk mencapainya. Usaha yang tiada henti, tak kenal lelah, tak kenal pantang menyerah, doa yang kita panjatkan tiap waktu untuk hasil yang terbaik. Kita melakukan semua itu dengan perasaan bahagia seakan-akan kita akan berhasil mencapainya. Namun ketika semua itu tak sesuai harapan, kegagalan di pelupuk mata, kesedihan lah yang membayangi hidup kita. Hidup kita hilang di telan bumi. Semangat kita yang semula giat luruh tak tersisa. Hanya membekaskan serpihan-serpihan yang tiada arti. Kenapa kebahagiaan itu menguap begitu saja?
Dimana sebenarnya letak kebahagiaan sejati kita? Dimana sebenarnya naluri keindahan kita menikmati proses dan bukan hasil? Sahabat kita, kekasih kita, harapan kita, impian kita, mereka adalah sarana kebahagiaan kita. Dari proses kita belajar bahagia dan membahagiakan orang lain. Ketika semua itu tak sesuai harapan kita, ingatlah kebaikan sahabat kita yang selalu ada untuk kita, ingatlah masa-masa bahagia bersama kekasih kita yang selalu menjadikan punggungnya tuk sandaran kita, ingatlah masa-masa perjuangan kita saat kita berharap tuk meraih sesuatu. Adapun sekarang yang berubah, anggap saja semua itu adalah proses kehidupan agar kita belajar tuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya.
Carilah kebahagiaan itu dalam hati kita. Hati kita lah yang mampu menilai seberapa besar kebahagiaan itu dalam diri kita. Senyum tak selalu menandakan kebahagiaan tapi kebahagiaan akan menghadirkan senyum yang indah yang bisa dirasakan orang di sekitar kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam hati kita dengan menerima apa yang telah ditetapkan olehNya. Kebahagiaan yang sejati selalu disandarkan pada Allah Swt. Tetaplah semangat menjalani hidup ini karena kebahagiaan itu tak akan datang sendiri kecuali kita yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri.
Coz I Miss You
“ Icha!”
Langkahku terhenti ketika aku mendengar suara kak Fadil memanggilku. Langkah beratnya menghampiriku.
“ Aku memanggilmu dari tadi,” ujarnya sambil menyerahkan buku yang diambil dari tasnya.
“ Maaf ya kak, aku nggak dengar. Aku buru-buru sich mau ketemu Afa. Tapi, makasih ya,” ucapku sambil menerima buku yang ia sodorkan.
“ Good luck ya!” teriaknya setengah berlari kembali ke kelas.
Langkahku terhenti ketika aku mendengar suara kak Fadil memanggilku. Langkah beratnya menghampiriku.
“ Aku memanggilmu dari tadi,” ujarnya sambil menyerahkan buku yang diambil dari tasnya.
“ Maaf ya kak, aku nggak dengar. Aku buru-buru sich mau ketemu Afa. Tapi, makasih ya,” ucapku sambil menerima buku yang ia sodorkan.
“ Good luck ya!” teriaknya setengah berlari kembali ke kelas.
Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya. Muhammad Fadil Ramadhan. Aku mengenalnya karena teman akrabku, Alya yang mengenalkannya padaku. Sejak itulah aku akrab dengannya, meski dia kakak angkatanku. Fadil, sosok humoris dan berwibawa dengan seabrek kegiatannya masih tetap bisa meluangkan waktu tuk mendengarkan curhatku. Ku percepat langkahku menuju masjid kampus. Aku melihat Afa duduk di pojok beranda masjid. Pelan-pelan aku menghampirinya dan duduk tak jauh darinya. Ku biarkan saja obrolannya dengan teman-temannya sambil mengamati suasana kampus yang semakin ramai oleh mahasiswa. Dia menoleh dan kaget melihatku yang duduk disampingnya.
“ Udah dari tadi? Maaf aku nggak tahu,” ujarnya sambil menata letak duduknya.
“ Baru aja kok. Diterusin aja ngobrolnya. Aku bisa nunggu.”
“ Nggak penting kok. Yuk, makan! Aku mau mengajakmu ke tempat yang paling enak. Dijamin kamu pasti ketagihan tuk kembali kesana,” antusias wajahnya yang terpancar membuatku tak sanggup tuk menolaknya. Dan sekarang aku berada di boncengannya, menikmati laju Tiger-nya yang melaju kencang. Berada disampingnya membuat perasaanku berbeda. Bukan perasaan aman ketika aku berada disamping kak Fadil, tapi perasaan yang tak pernah bisa aku jelaskan. Apakah aku mulai menyukainya? Intensitas bertemu dengan dia jauh lebih besar ketimbang bertemu kak Fadil. Entahlah.
Malam ini, aku di kost sendirian. Alya, teman sekamarku, lagi pulang ke rumahnya di Surabaya. Sumpek. Bosan. Masih aku ingat kata-kata Afa tadi siang.
“ Cha, aku pengen ngomong sesuatu,” mimik wajahnya terlihat serius.
Aku yang sedang menyeruput es jus di buat kaget oleh ucapannya. Ku tatap matanya sambil menerka-nerka apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Tapi, aku tak ingin menduga-duga.
“ Aku…” Wajahnya tertunduk. “ Aku.. sayang banget sama kamu Cha.” Dia menghela napas seakan-akan telah mengeluarkan beban yang selama ini dipendamnya.
Gantian aku yang bingung. Apa yang mesti aku jawab? Perasaanku kacau. Saat itu yang ku pikirkan cuma satu, pulang! Ketika aku sampai di kost, yang aku dapati cuma kamar kosong. Aku sedih. Baru aku tahu dari sms Alya tadi pagi yang sempat aku abaikan kalau Alya pulang ke Surabaya karena ibunya masuk rumah sakit. Rencananya dia akan seminggu berada di rumah.
Dan sekarang, tinggallah aku sendiri, membolak-balik novel Bumi Cinta tanpa sempat aku baca. Hatiku gundah. Satu sisi aku tertarik dengannya, di satu sisi aku bingung dengan perasaanku sendiri. Arrrrrrgggghhhhhh……
Aku berangkat kuliah dengan perasaan sedih. Wajahku kusut tak bergairah. Tak ku hiraukan pandangan mata orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
“ Icha, kamu sakit?” sapa kak Fadil yang heran melihatku sepanjang koridor kampus hanya menunduk.
“ Apa?!” aku mendongak kaget. “ Kamu sakit? Mending istirahat aja. Aku antar kamu pulang ya.”
“ Oh, nggak apa-apa kok kak. Aku baik-baik aja,” kilahku.
“ Udah sarapan?”
Sarapan? Aku ingat kalau sebelum berangkat tadi aku belum sempat sarapan. Aku menggeleng. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali.
“ Icha.. Icha,” samar-samar aku masih melihat wajah kak Fadil yang cemas. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Ketika aku buka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Ku edarkan pandanganku mencari seseorang yang ku kenal. Tak ada. Aku kaget ketika dari arah pintu ku lihat beberapa teman sekelasku datang.
“ Icha, kamu sakit apa sich sebenarnya?” tanya Dinda yang duduk disampingku sambil memegang tanganku yang penuh dengan selang infus. Aku cuma tersenyum.
“ Hehehe..” aku cuma nyengir. “ Aku baik-baik aja kok. Tenang aja.”
“ Cha, tahu nggak sich. Kak Fadil ternyata perhatian banget sama kamu.” bisik Nayla. Perhatian dalam hal apa?
“ Iya Cha. Waktu kamu pingsan di koridor kemarin, dia cemas banget lho. Dia kelimpungan cari mobil tuk bawa kamu ke rumah sakit. Katanya kamu punya penyakit lemah jantung. Untung aja waktu itu ada angkot yang kosong. Dia bopong kamu sendirian lho. Aku salut banget ma dia,” tambah Nayla yang membuatku kaget. Masa sich?
“ Apalagi dia yang bayarin biaya rumah sakit ini lho,” timpal Resti. Aku semakin tak enak hati sama kak Fadil. Perasaan yang dulu aku buang jauh-jauh kenapa muncul lagi. Kacau. Tapi sekarang dia dimana? hatiku bertanya-tanya.
“ Sst! Ada kak Fadil,” ucap Dinda setengah berbisik ketika kak Fadil memasuki kamar. Ternyata dia tak sendiri. Dia bersama Fatihuddin Fawwaz atau Afa. Bagaimana bisa kak Fadil membawa Afa bersamanya? jengkelku. Dia menanyakan keadaanku dan ku jawab ala kadarnya. Dia sempat menyinggung pembicaraan kemarin tapi aku tak ingin mengatakan apapun. Dari sorot matanya aku tahu kalau dia kecewa. Maafkan aku, Afa. Ku lirik kak Fadil sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun. Aku kesal. Sedangkan teman-teman kasak kusuk bertanya-tanya sekiranya apa yang telah dibicarakan Afa padaku. Ku lihat kak Fadil berjalan menjauh, beranjak meninggalkan ruangan. Hatiku menjerit. Kak Fadil, tolong jangan pergi. Seketika tubuhku bangkit, mataku memandang ke arah pintu. Aku tak tahu jika Afa mengikuti arah pandanganku. Lantunan hapeku membuatku buyar. Aku membuka sms. Dari Kak Fadil!
Q sadar. Semuanya telah berubah. Antara aku dan engkau. Q rasa begitu jauh. Jauh hingga Q masih terpaku disini. Begitu rapuh. Di dunia ini yang lama takkan bisa bertahan. Berbahagialah engkau dengan penggantiku. Cepat sembuh ya de’. Semoga kasih sayangNya selalu tercurahkan untukmu.
Aku benar-benar sedih. Aku ingin dia ada disisiku. Kak Fadil, tolong jangan pergi!
Hari-hariku kini berlalu begitu cepat. Tak terasa ujian semester baru saja berlalu. Seiring perjalanan waktu, hubunganku dengan Afa berangsur membaik, bersahabat kembali meski terasa asing. Kak Fadil? Setelah kejadian di rumah sakit tempo hari, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Rasa kangen itu tiba-tiba muncul ketika teringat semua pengorbanannya. Aku duduk di pojok beranda masjid kampus sambil memainkan tuts-tuts keyboard netbook-ku. Aku terbiasa menulis diaryku di Axioo mungilku ketimbang menulis di buku harian. Ketika sedang asyiknya menulis, aku tak sadar jika ada sepasang mata yang sejak tadi melihatku dari belakang.
“ Lagi nulis apa sich? serius amat,” suara halusnya cukup mengagetkanku. Suara ini? Aku mendongak. Seulas senyum itu membuatku grogi.
“ Apaan sich?” dengan cepat aku menutup layar netbook-ku. “ Mengganggu saja.”
“ Ya udah, kalau aku mengganggu.” lelaki itu beranjak pergi dengan senyum dikulum.
“ Kak Fadil!” seruanku membuat dia menoleh. “ Bisakah temani aku sebentar?” pintaku. Dia tersenyum.
“ Kangen ma aku ya? Aku tahu kok. Hehe..” guraunya sambil duduk disebelahku. Kangen? Tapi kata-katanya barusan cukup membuat hatiku berantakan. Menikam jauh ke lubuk hatiku. Aku sangat bahagia ketika melihatnya sekarang ada disini bersamaku. Pagi ini kami bercanda, saling meledek seperti waktu sebelum-sebelumnya. Baru aku tahu kalau dia akan menghabiskan libur satu setengah bulan ini untuk kerja sampingan di meubel pamannya di Solo.
“ Nggak usah kangen ya kalau aku tinggal. Apalagi sampai mewek begitu,” guraunya di sela-sela pembicaraan kami.
“ Ihh, siapa juga yang kangen. Nggak bakalan dech. Sorry ya,” elakku. Padahal hati ini ingin berteriak padanya, aku kangen sama kamu kak Fadil! Tapi kata-kata itu tersimpan rapat di hatiku.
“ Hahahaha..” dia tertawa keras. Tak pelak lagi aku pun ikut tertawa juga. Aku memandang wajahnya yang teduh. Kenapa hati ini begitu kacau ketika bertatapan mata dengannya?
“ Icha!” aku yang lagi asyik menulis merasa terganggu dengan teriakan Alya yang tak kenal tempat itu. “ Icha.. Icha!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“ Ada apa sich?” jawabku setengah jengkel. Alya menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink dan berpita pink juga. Dengan tak sabar ku robek dengan paksa. Aku kecewa ketika didalamnya hanya ada secarik kertas dan tak ada yang lain. Aku nyengir ketika membaca tulisan rapi di kertas tersebut.
Salsabila Anindya Putri. Dengan susah payah aku membungkus kado ini tukmu. Tapi aku sangat kecewa karna kau merobeknya dengan paksa.
Aku tersenyum simpul. Dia sangat tahu kebiasaanku. Aku berjingkat dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Alya yang melihat tingkahku sedikit heran. Ku sibak jendela kamarku dengan cepat. Di seberang jalan, ku lihat seorang cowok sedang memandang ke arah kamar kost-ku. Ketika melihat aku melongok keluar jendela, dia tersenyum. Kak Fadil!
Aku dan kak Fadil sekarang duduk berhadapan. Dua minggu tak ketemu membuatku canggung tuk memulai percakapan. “ Kakak nggak pulang ke Semarang?” aku membuka pembicaraan.
“ Nggak ah. Males. Lagian aku lebih suka ketemu ade’ku yang suka usil ini. Hehe..” tawanya renyah. Aku memandangnya tak mengerti.
“ Kamu kan sering missedcall nggak jelas. Apalagi sampai berpuluh-puluh kali. Di telpon nggak diangkat. Di sms nggak dibales. Itu namanya apa coba, usil kan namanya. Bikin nggak tenang pekerjaan aja.”
Aku benar-benar mangkel. Aku beranjak pergi. Meninggalkannya yang heran dengan sikapku. Aku berjalan-jalan menghirup udara segar. Menikmati pemandangan kota Malang yang sangat aku suka. Dari kejauhan kak Fadil memandangku sambil tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku membeku. Sepersekian detik aku merasakan jantungku ingin meloncat keluar. Aku sekarang dalam pelukan kak Fadil!
“ I miss you Cha!” Dadaku berdebar kencang. Aku hanya butuh kata-kata itu untuk memastikan perasaanku terhadapnya tak bertepuk sebelah tangan. Dia membalik tubuhku dan kini ia dihadapanku hanya beberapa senti. Tangan kokohnya memegang bahuku, menatapku dalam-dalam seakan-akan memastikan aku tak hilang lagi dalam pandangannya.
“ Aku disini karena aku kangen sama kamu Cha. Aku mengatakan ini kepadamu agar kau yakin bahwa perhatian dan kasih sayangku padamu tidak hanya sebatas teman diskusi, sahabat, ataupun kakakmu. Lebih dari yang kau bayangkan. “
“ Maafkan aku kak. Waktu kakak terbuang sia-sia cuma untuk menemaniku. Kakak udah sibuk menyelesaikan skripsi belum lagi kerja di tambah aku yang sering minta tolong ma kakak. Aku benar-benar minta maaf kak.” Airmataku meleleh.
“ Dengerin aku.” ucapnya sambil menyeka airmataku. Menatap matanya yang teduh membuat hatiku tenang sekaligus berdebar tak karuan. Dia tersenyum. Kali ini senyum itu membuatku merasakan rindu, sayang, takut kehilangan, perasaan yang selama ini aku pungkiri pada seorang cowok yang selama ini aku dambakan. Kak Fadil.
“ Aku tak pernah merasa kehadiranmu membuat waktuku terbuang sia-sia. Karena kau adalah motivasiku Cha.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku ingin waktu berlalu lambat dan menghabiskan hari ini bersamanya. Kita duduk di bawah pohon sambil menikmati es kelapa muda.
“ Kak, isi kadonya mana? Kok cuma kertas.”
“ Hehehe.. penasaran ya?” godanya.
“ Ihh, kak Fadil nih. Bikin penasaran orang dosa lho.”
“Sepertinya ketinggalan di kost deh.” ucapnya serius.
“Udahlah. Nggak penting kok. Yuk kak pulang! Hampir jam 3 nih.” ajakku ketika melirik arloji di tangan kananku. Aku beranjak pergi. Cowok tampan itu tersenyum melihat kotak cincin yang dikeluarkan diam-diam dari saku celananya. “ Suatu saat nanti Cha. Tunggulah waktunya,” batinnya.
“ Kak, ayo pulang!” teriakku tak sabar lalu menyambar helm dan memakainya. Dengan cepat kak Fadil memasukkan kotak cincin itu ke dalam sakunya. Dia tersenyum ke arahku. “ Iya sebentar.”
Cinta bukanlah tujuan sejati. Dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu kita sudah mempelajari bahwa hal terbaik yang berhubungan dengan cinta adalah kesediaan untuk memberikan cinta. Hadiah terbaik dalam sebuah cinta adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang serta membantu orang yang kita cintai. Kebahagiaan adalah apa yang kita lakukan bukanlah apa yang kita raih. Kebahagiaan adalah apa yang kita berikan bukanlah apa yang kita terima.
“ Udah dari tadi? Maaf aku nggak tahu,” ujarnya sambil menata letak duduknya.
“ Baru aja kok. Diterusin aja ngobrolnya. Aku bisa nunggu.”
“ Nggak penting kok. Yuk, makan! Aku mau mengajakmu ke tempat yang paling enak. Dijamin kamu pasti ketagihan tuk kembali kesana,” antusias wajahnya yang terpancar membuatku tak sanggup tuk menolaknya. Dan sekarang aku berada di boncengannya, menikmati laju Tiger-nya yang melaju kencang. Berada disampingnya membuat perasaanku berbeda. Bukan perasaan aman ketika aku berada disamping kak Fadil, tapi perasaan yang tak pernah bisa aku jelaskan. Apakah aku mulai menyukainya? Intensitas bertemu dengan dia jauh lebih besar ketimbang bertemu kak Fadil. Entahlah.
Malam ini, aku di kost sendirian. Alya, teman sekamarku, lagi pulang ke rumahnya di Surabaya. Sumpek. Bosan. Masih aku ingat kata-kata Afa tadi siang.
“ Cha, aku pengen ngomong sesuatu,” mimik wajahnya terlihat serius.
Aku yang sedang menyeruput es jus di buat kaget oleh ucapannya. Ku tatap matanya sambil menerka-nerka apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Tapi, aku tak ingin menduga-duga.
“ Aku…” Wajahnya tertunduk. “ Aku.. sayang banget sama kamu Cha.” Dia menghela napas seakan-akan telah mengeluarkan beban yang selama ini dipendamnya.
Gantian aku yang bingung. Apa yang mesti aku jawab? Perasaanku kacau. Saat itu yang ku pikirkan cuma satu, pulang! Ketika aku sampai di kost, yang aku dapati cuma kamar kosong. Aku sedih. Baru aku tahu dari sms Alya tadi pagi yang sempat aku abaikan kalau Alya pulang ke Surabaya karena ibunya masuk rumah sakit. Rencananya dia akan seminggu berada di rumah.
Dan sekarang, tinggallah aku sendiri, membolak-balik novel Bumi Cinta tanpa sempat aku baca. Hatiku gundah. Satu sisi aku tertarik dengannya, di satu sisi aku bingung dengan perasaanku sendiri. Arrrrrrgggghhhhhh……
Aku berangkat kuliah dengan perasaan sedih. Wajahku kusut tak bergairah. Tak ku hiraukan pandangan mata orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
“ Icha, kamu sakit?” sapa kak Fadil yang heran melihatku sepanjang koridor kampus hanya menunduk.
“ Apa?!” aku mendongak kaget. “ Kamu sakit? Mending istirahat aja. Aku antar kamu pulang ya.”
“ Oh, nggak apa-apa kok kak. Aku baik-baik aja,” kilahku.
“ Udah sarapan?”
Sarapan? Aku ingat kalau sebelum berangkat tadi aku belum sempat sarapan. Aku menggeleng. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali.
“ Icha.. Icha,” samar-samar aku masih melihat wajah kak Fadil yang cemas. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Ketika aku buka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Ku edarkan pandanganku mencari seseorang yang ku kenal. Tak ada. Aku kaget ketika dari arah pintu ku lihat beberapa teman sekelasku datang.
“ Icha, kamu sakit apa sich sebenarnya?” tanya Dinda yang duduk disampingku sambil memegang tanganku yang penuh dengan selang infus. Aku cuma tersenyum.
“ Hehehe..” aku cuma nyengir. “ Aku baik-baik aja kok. Tenang aja.”
“ Cha, tahu nggak sich. Kak Fadil ternyata perhatian banget sama kamu.” bisik Nayla. Perhatian dalam hal apa?
“ Iya Cha. Waktu kamu pingsan di koridor kemarin, dia cemas banget lho. Dia kelimpungan cari mobil tuk bawa kamu ke rumah sakit. Katanya kamu punya penyakit lemah jantung. Untung aja waktu itu ada angkot yang kosong. Dia bopong kamu sendirian lho. Aku salut banget ma dia,” tambah Nayla yang membuatku kaget. Masa sich?
“ Apalagi dia yang bayarin biaya rumah sakit ini lho,” timpal Resti. Aku semakin tak enak hati sama kak Fadil. Perasaan yang dulu aku buang jauh-jauh kenapa muncul lagi. Kacau. Tapi sekarang dia dimana? hatiku bertanya-tanya.
“ Sst! Ada kak Fadil,” ucap Dinda setengah berbisik ketika kak Fadil memasuki kamar. Ternyata dia tak sendiri. Dia bersama Fatihuddin Fawwaz atau Afa. Bagaimana bisa kak Fadil membawa Afa bersamanya? jengkelku. Dia menanyakan keadaanku dan ku jawab ala kadarnya. Dia sempat menyinggung pembicaraan kemarin tapi aku tak ingin mengatakan apapun. Dari sorot matanya aku tahu kalau dia kecewa. Maafkan aku, Afa. Ku lirik kak Fadil sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun. Aku kesal. Sedangkan teman-teman kasak kusuk bertanya-tanya sekiranya apa yang telah dibicarakan Afa padaku. Ku lihat kak Fadil berjalan menjauh, beranjak meninggalkan ruangan. Hatiku menjerit. Kak Fadil, tolong jangan pergi. Seketika tubuhku bangkit, mataku memandang ke arah pintu. Aku tak tahu jika Afa mengikuti arah pandanganku. Lantunan hapeku membuatku buyar. Aku membuka sms. Dari Kak Fadil!
Q sadar. Semuanya telah berubah. Antara aku dan engkau. Q rasa begitu jauh. Jauh hingga Q masih terpaku disini. Begitu rapuh. Di dunia ini yang lama takkan bisa bertahan. Berbahagialah engkau dengan penggantiku. Cepat sembuh ya de’. Semoga kasih sayangNya selalu tercurahkan untukmu.
Aku benar-benar sedih. Aku ingin dia ada disisiku. Kak Fadil, tolong jangan pergi!
Hari-hariku kini berlalu begitu cepat. Tak terasa ujian semester baru saja berlalu. Seiring perjalanan waktu, hubunganku dengan Afa berangsur membaik, bersahabat kembali meski terasa asing. Kak Fadil? Setelah kejadian di rumah sakit tempo hari, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Rasa kangen itu tiba-tiba muncul ketika teringat semua pengorbanannya. Aku duduk di pojok beranda masjid kampus sambil memainkan tuts-tuts keyboard netbook-ku. Aku terbiasa menulis diaryku di Axioo mungilku ketimbang menulis di buku harian. Ketika sedang asyiknya menulis, aku tak sadar jika ada sepasang mata yang sejak tadi melihatku dari belakang.
“ Lagi nulis apa sich? serius amat,” suara halusnya cukup mengagetkanku. Suara ini? Aku mendongak. Seulas senyum itu membuatku grogi.
“ Apaan sich?” dengan cepat aku menutup layar netbook-ku. “ Mengganggu saja.”
“ Ya udah, kalau aku mengganggu.” lelaki itu beranjak pergi dengan senyum dikulum.
“ Kak Fadil!” seruanku membuat dia menoleh. “ Bisakah temani aku sebentar?” pintaku. Dia tersenyum.
“ Kangen ma aku ya? Aku tahu kok. Hehe..” guraunya sambil duduk disebelahku. Kangen? Tapi kata-katanya barusan cukup membuat hatiku berantakan. Menikam jauh ke lubuk hatiku. Aku sangat bahagia ketika melihatnya sekarang ada disini bersamaku. Pagi ini kami bercanda, saling meledek seperti waktu sebelum-sebelumnya. Baru aku tahu kalau dia akan menghabiskan libur satu setengah bulan ini untuk kerja sampingan di meubel pamannya di Solo.
“ Nggak usah kangen ya kalau aku tinggal. Apalagi sampai mewek begitu,” guraunya di sela-sela pembicaraan kami.
“ Ihh, siapa juga yang kangen. Nggak bakalan dech. Sorry ya,” elakku. Padahal hati ini ingin berteriak padanya, aku kangen sama kamu kak Fadil! Tapi kata-kata itu tersimpan rapat di hatiku.
“ Hahahaha..” dia tertawa keras. Tak pelak lagi aku pun ikut tertawa juga. Aku memandang wajahnya yang teduh. Kenapa hati ini begitu kacau ketika bertatapan mata dengannya?
“ Icha!” aku yang lagi asyik menulis merasa terganggu dengan teriakan Alya yang tak kenal tempat itu. “ Icha.. Icha!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“ Ada apa sich?” jawabku setengah jengkel. Alya menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink dan berpita pink juga. Dengan tak sabar ku robek dengan paksa. Aku kecewa ketika didalamnya hanya ada secarik kertas dan tak ada yang lain. Aku nyengir ketika membaca tulisan rapi di kertas tersebut.
Salsabila Anindya Putri. Dengan susah payah aku membungkus kado ini tukmu. Tapi aku sangat kecewa karna kau merobeknya dengan paksa.
Aku tersenyum simpul. Dia sangat tahu kebiasaanku. Aku berjingkat dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Alya yang melihat tingkahku sedikit heran. Ku sibak jendela kamarku dengan cepat. Di seberang jalan, ku lihat seorang cowok sedang memandang ke arah kamar kost-ku. Ketika melihat aku melongok keluar jendela, dia tersenyum. Kak Fadil!
Aku dan kak Fadil sekarang duduk berhadapan. Dua minggu tak ketemu membuatku canggung tuk memulai percakapan. “ Kakak nggak pulang ke Semarang?” aku membuka pembicaraan.
“ Nggak ah. Males. Lagian aku lebih suka ketemu ade’ku yang suka usil ini. Hehe..” tawanya renyah. Aku memandangnya tak mengerti.
“ Kamu kan sering missedcall nggak jelas. Apalagi sampai berpuluh-puluh kali. Di telpon nggak diangkat. Di sms nggak dibales. Itu namanya apa coba, usil kan namanya. Bikin nggak tenang pekerjaan aja.”
Aku benar-benar mangkel. Aku beranjak pergi. Meninggalkannya yang heran dengan sikapku. Aku berjalan-jalan menghirup udara segar. Menikmati pemandangan kota Malang yang sangat aku suka. Dari kejauhan kak Fadil memandangku sambil tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku membeku. Sepersekian detik aku merasakan jantungku ingin meloncat keluar. Aku sekarang dalam pelukan kak Fadil!
“ I miss you Cha!” Dadaku berdebar kencang. Aku hanya butuh kata-kata itu untuk memastikan perasaanku terhadapnya tak bertepuk sebelah tangan. Dia membalik tubuhku dan kini ia dihadapanku hanya beberapa senti. Tangan kokohnya memegang bahuku, menatapku dalam-dalam seakan-akan memastikan aku tak hilang lagi dalam pandangannya.
“ Aku disini karena aku kangen sama kamu Cha. Aku mengatakan ini kepadamu agar kau yakin bahwa perhatian dan kasih sayangku padamu tidak hanya sebatas teman diskusi, sahabat, ataupun kakakmu. Lebih dari yang kau bayangkan. “
“ Maafkan aku kak. Waktu kakak terbuang sia-sia cuma untuk menemaniku. Kakak udah sibuk menyelesaikan skripsi belum lagi kerja di tambah aku yang sering minta tolong ma kakak. Aku benar-benar minta maaf kak.” Airmataku meleleh.
“ Dengerin aku.” ucapnya sambil menyeka airmataku. Menatap matanya yang teduh membuat hatiku tenang sekaligus berdebar tak karuan. Dia tersenyum. Kali ini senyum itu membuatku merasakan rindu, sayang, takut kehilangan, perasaan yang selama ini aku pungkiri pada seorang cowok yang selama ini aku dambakan. Kak Fadil.
“ Aku tak pernah merasa kehadiranmu membuat waktuku terbuang sia-sia. Karena kau adalah motivasiku Cha.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku ingin waktu berlalu lambat dan menghabiskan hari ini bersamanya. Kita duduk di bawah pohon sambil menikmati es kelapa muda.
“ Kak, isi kadonya mana? Kok cuma kertas.”
“ Hehehe.. penasaran ya?” godanya.
“ Ihh, kak Fadil nih. Bikin penasaran orang dosa lho.”
“Sepertinya ketinggalan di kost deh.” ucapnya serius.
“Udahlah. Nggak penting kok. Yuk kak pulang! Hampir jam 3 nih.” ajakku ketika melirik arloji di tangan kananku. Aku beranjak pergi. Cowok tampan itu tersenyum melihat kotak cincin yang dikeluarkan diam-diam dari saku celananya. “ Suatu saat nanti Cha. Tunggulah waktunya,” batinnya.
“ Kak, ayo pulang!” teriakku tak sabar lalu menyambar helm dan memakainya. Dengan cepat kak Fadil memasukkan kotak cincin itu ke dalam sakunya. Dia tersenyum ke arahku. “ Iya sebentar.”
Cinta bukanlah tujuan sejati. Dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu kita sudah mempelajari bahwa hal terbaik yang berhubungan dengan cinta adalah kesediaan untuk memberikan cinta. Hadiah terbaik dalam sebuah cinta adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang serta membantu orang yang kita cintai. Kebahagiaan adalah apa yang kita lakukan bukanlah apa yang kita raih. Kebahagiaan adalah apa yang kita berikan bukanlah apa yang kita terima.
Langganan:
Komentar (Atom)
