Selasa, 15 November 2011

Temukan Bahagiamu

Kapan terakhir kita merasakan bahagia? Kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang kita dambakan selama ini. Apakah saat bersama orang-orang yang kita cintai atau bertemu dengan seseorang yang selama ini kita tunggu kedatangannya? Kita mampu mengeluarkan airmata saat bahagia, kita mampu mencurahkan semua perhatian kita saat bahagia, tapi apakah kita pernah merasakan kebahagiaan itu sendiri dalam hati kita?
Bertahun-tahun kita hidup dengan seorang sahabat, sahabat di saat suka dan duka, selalu ada saat kita membutuhkannya, menenangkan hati kita saat kita butuh sandaran, tentu kita akan sangat bahagia mempunyai sahabat seperti itu. Namun, ketika persahabatan itu hancur karena masalah sepele kita merasa hidup kita terasa menyedihkan hingga tak ada sandaran yang kita punya. Kebahagiaan atau kesedihan seperti apakah yang ada dalam hati kita?
Ketika kita benar-benar mencintai atau menyayangi seseorang, kita merasa sangat bahagia dan tak mau kehilangan dia. Kita merasa cukup akan kehadirannya dan kita merasa bahagia akan hal itu. Namun, ketika cinta itu berubah tak seindah permulaannya, ketika hati mulai berpaling, kita akan merasa sedih seakan-akan dunia berhenti berputar. Dimanapun hanya ada bayangannya yang selalu hadir mengganggu, dimanakah kebahagiaan yang pernah ada dalam hati kita? Kenapa terhapus hanya karena kebahagiaan itu tak berpihak kepada kita? Haruskah kita bersedih sepanjang hari meratapi kebahagiaan kita yang hilang atau tak kunjung datang?
Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, segala usaha dan doa kita kerahkan tuk mencapainya. Usaha yang tiada henti, tak kenal lelah, tak kenal pantang menyerah, doa yang kita panjatkan tiap waktu untuk hasil yang terbaik. Kita melakukan semua itu dengan perasaan bahagia seakan-akan kita akan berhasil mencapainya. Namun ketika semua itu tak sesuai harapan, kegagalan di pelupuk mata, kesedihan lah yang membayangi hidup kita. Hidup kita hilang di telan bumi. Semangat kita yang semula giat luruh tak tersisa. Hanya membekaskan serpihan-serpihan yang tiada arti. Kenapa kebahagiaan itu menguap begitu saja?
Dimana sebenarnya letak kebahagiaan sejati kita? Dimana sebenarnya naluri keindahan kita menikmati proses dan bukan hasil? Sahabat kita, kekasih kita, harapan kita, impian kita, mereka adalah sarana kebahagiaan kita. Dari proses kita belajar bahagia dan membahagiakan orang lain. Ketika semua itu tak sesuai harapan kita, ingatlah kebaikan sahabat kita yang selalu ada untuk kita, ingatlah masa-masa bahagia bersama kekasih kita yang selalu menjadikan punggungnya tuk sandaran kita, ingatlah masa-masa perjuangan kita saat kita berharap tuk meraih sesuatu. Adapun sekarang yang berubah, anggap saja semua itu adalah proses kehidupan agar kita belajar tuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya.
Carilah kebahagiaan itu dalam hati kita. Hati kita lah yang mampu menilai seberapa besar kebahagiaan itu dalam diri kita. Senyum tak selalu menandakan kebahagiaan tapi kebahagiaan akan menghadirkan senyum yang indah yang bisa dirasakan orang di sekitar kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam hati kita dengan menerima apa yang telah ditetapkan olehNya. Kebahagiaan yang sejati selalu disandarkan pada Allah Swt. Tetaplah semangat menjalani hidup ini karena kebahagiaan itu tak akan datang sendiri kecuali kita yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar