“ Icha!”
Langkahku terhenti ketika aku mendengar suara kak Fadil memanggilku. Langkah beratnya menghampiriku.
“ Aku memanggilmu dari tadi,” ujarnya sambil menyerahkan buku yang diambil dari tasnya.
“ Maaf ya kak, aku nggak dengar. Aku buru-buru sich mau ketemu Afa. Tapi, makasih ya,” ucapku sambil menerima buku yang ia sodorkan.
“ Good luck ya!” teriaknya setengah berlari kembali ke kelas.
Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya. Muhammad Fadil Ramadhan. Aku mengenalnya karena teman akrabku, Alya yang mengenalkannya padaku. Sejak itulah aku akrab dengannya, meski dia kakak angkatanku. Fadil, sosok humoris dan berwibawa dengan seabrek kegiatannya masih tetap bisa meluangkan waktu tuk mendengarkan curhatku. Ku percepat langkahku menuju masjid kampus. Aku melihat Afa duduk di pojok beranda masjid. Pelan-pelan aku menghampirinya dan duduk tak jauh darinya. Ku biarkan saja obrolannya dengan teman-temannya sambil mengamati suasana kampus yang semakin ramai oleh mahasiswa. Dia menoleh dan kaget melihatku yang duduk disampingnya.
“ Udah dari tadi? Maaf aku nggak tahu,” ujarnya sambil menata letak duduknya.
“ Baru aja kok. Diterusin aja ngobrolnya. Aku bisa nunggu.”
“ Nggak penting kok. Yuk, makan! Aku mau mengajakmu ke tempat yang paling enak. Dijamin kamu pasti ketagihan tuk kembali kesana,” antusias wajahnya yang terpancar membuatku tak sanggup tuk menolaknya. Dan sekarang aku berada di boncengannya, menikmati laju Tiger-nya yang melaju kencang. Berada disampingnya membuat perasaanku berbeda. Bukan perasaan aman ketika aku berada disamping kak Fadil, tapi perasaan yang tak pernah bisa aku jelaskan. Apakah aku mulai menyukainya? Intensitas bertemu dengan dia jauh lebih besar ketimbang bertemu kak Fadil. Entahlah.
Malam ini, aku di kost sendirian. Alya, teman sekamarku, lagi pulang ke rumahnya di Surabaya. Sumpek. Bosan. Masih aku ingat kata-kata Afa tadi siang.
“ Cha, aku pengen ngomong sesuatu,” mimik wajahnya terlihat serius.
Aku yang sedang menyeruput es jus di buat kaget oleh ucapannya. Ku tatap matanya sambil menerka-nerka apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Tapi, aku tak ingin menduga-duga.
“ Aku…” Wajahnya tertunduk. “ Aku.. sayang banget sama kamu Cha.” Dia menghela napas seakan-akan telah mengeluarkan beban yang selama ini dipendamnya.
Gantian aku yang bingung. Apa yang mesti aku jawab? Perasaanku kacau. Saat itu yang ku pikirkan cuma satu, pulang! Ketika aku sampai di kost, yang aku dapati cuma kamar kosong. Aku sedih. Baru aku tahu dari sms Alya tadi pagi yang sempat aku abaikan kalau Alya pulang ke Surabaya karena ibunya masuk rumah sakit. Rencananya dia akan seminggu berada di rumah.
Dan sekarang, tinggallah aku sendiri, membolak-balik novel Bumi Cinta tanpa sempat aku baca. Hatiku gundah. Satu sisi aku tertarik dengannya, di satu sisi aku bingung dengan perasaanku sendiri. Arrrrrrgggghhhhhh……
Aku berangkat kuliah dengan perasaan sedih. Wajahku kusut tak bergairah. Tak ku hiraukan pandangan mata orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
“ Icha, kamu sakit?” sapa kak Fadil yang heran melihatku sepanjang koridor kampus hanya menunduk.
“ Apa?!” aku mendongak kaget. “ Kamu sakit? Mending istirahat aja. Aku antar kamu pulang ya.”
“ Oh, nggak apa-apa kok kak. Aku baik-baik aja,” kilahku.
“ Udah sarapan?”
Sarapan? Aku ingat kalau sebelum berangkat tadi aku belum sempat sarapan. Aku menggeleng. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali.
“ Icha.. Icha,” samar-samar aku masih melihat wajah kak Fadil yang cemas. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Ketika aku buka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Ku edarkan pandanganku mencari seseorang yang ku kenal. Tak ada. Aku kaget ketika dari arah pintu ku lihat beberapa teman sekelasku datang.
“ Icha, kamu sakit apa sich sebenarnya?” tanya Dinda yang duduk disampingku sambil memegang tanganku yang penuh dengan selang infus. Aku cuma tersenyum.
“ Hehehe..” aku cuma nyengir. “ Aku baik-baik aja kok. Tenang aja.”
“ Cha, tahu nggak sich. Kak Fadil ternyata perhatian banget sama kamu.” bisik Nayla. Perhatian dalam hal apa?
“ Iya Cha. Waktu kamu pingsan di koridor kemarin, dia cemas banget lho. Dia kelimpungan cari mobil tuk bawa kamu ke rumah sakit. Katanya kamu punya penyakit lemah jantung. Untung aja waktu itu ada angkot yang kosong. Dia bopong kamu sendirian lho. Aku salut banget ma dia,” tambah Nayla yang membuatku kaget. Masa sich?
“ Apalagi dia yang bayarin biaya rumah sakit ini lho,” timpal Resti. Aku semakin tak enak hati sama kak Fadil. Perasaan yang dulu aku buang jauh-jauh kenapa muncul lagi. Kacau. Tapi sekarang dia dimana? hatiku bertanya-tanya.
“ Sst! Ada kak Fadil,” ucap Dinda setengah berbisik ketika kak Fadil memasuki kamar. Ternyata dia tak sendiri. Dia bersama Fatihuddin Fawwaz atau Afa. Bagaimana bisa kak Fadil membawa Afa bersamanya? jengkelku. Dia menanyakan keadaanku dan ku jawab ala kadarnya. Dia sempat menyinggung pembicaraan kemarin tapi aku tak ingin mengatakan apapun. Dari sorot matanya aku tahu kalau dia kecewa. Maafkan aku, Afa. Ku lirik kak Fadil sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun. Aku kesal. Sedangkan teman-teman kasak kusuk bertanya-tanya sekiranya apa yang telah dibicarakan Afa padaku. Ku lihat kak Fadil berjalan menjauh, beranjak meninggalkan ruangan. Hatiku menjerit. Kak Fadil, tolong jangan pergi. Seketika tubuhku bangkit, mataku memandang ke arah pintu. Aku tak tahu jika Afa mengikuti arah pandanganku. Lantunan hapeku membuatku buyar. Aku membuka sms. Dari Kak Fadil!
Q sadar. Semuanya telah berubah. Antara aku dan engkau. Q rasa begitu jauh. Jauh hingga Q masih terpaku disini. Begitu rapuh. Di dunia ini yang lama takkan bisa bertahan. Berbahagialah engkau dengan penggantiku. Cepat sembuh ya de’. Semoga kasih sayangNya selalu tercurahkan untukmu.
Aku benar-benar sedih. Aku ingin dia ada disisiku. Kak Fadil, tolong jangan pergi!
Hari-hariku kini berlalu begitu cepat. Tak terasa ujian semester baru saja berlalu. Seiring perjalanan waktu, hubunganku dengan Afa berangsur membaik, bersahabat kembali meski terasa asing. Kak Fadil? Setelah kejadian di rumah sakit tempo hari, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Rasa kangen itu tiba-tiba muncul ketika teringat semua pengorbanannya. Aku duduk di pojok beranda masjid kampus sambil memainkan tuts-tuts keyboard netbook-ku. Aku terbiasa menulis diaryku di Axioo mungilku ketimbang menulis di buku harian. Ketika sedang asyiknya menulis, aku tak sadar jika ada sepasang mata yang sejak tadi melihatku dari belakang.
“ Lagi nulis apa sich? serius amat,” suara halusnya cukup mengagetkanku. Suara ini? Aku mendongak. Seulas senyum itu membuatku grogi.
“ Apaan sich?” dengan cepat aku menutup layar netbook-ku. “ Mengganggu saja.”
“ Ya udah, kalau aku mengganggu.” lelaki itu beranjak pergi dengan senyum dikulum.
“ Kak Fadil!” seruanku membuat dia menoleh. “ Bisakah temani aku sebentar?” pintaku. Dia tersenyum.
“ Kangen ma aku ya? Aku tahu kok. Hehe..” guraunya sambil duduk disebelahku. Kangen? Tapi kata-katanya barusan cukup membuat hatiku berantakan. Menikam jauh ke lubuk hatiku. Aku sangat bahagia ketika melihatnya sekarang ada disini bersamaku. Pagi ini kami bercanda, saling meledek seperti waktu sebelum-sebelumnya. Baru aku tahu kalau dia akan menghabiskan libur satu setengah bulan ini untuk kerja sampingan di meubel pamannya di Solo.
“ Nggak usah kangen ya kalau aku tinggal. Apalagi sampai mewek begitu,” guraunya di sela-sela pembicaraan kami.
“ Ihh, siapa juga yang kangen. Nggak bakalan dech. Sorry ya,” elakku. Padahal hati ini ingin berteriak padanya, aku kangen sama kamu kak Fadil! Tapi kata-kata itu tersimpan rapat di hatiku.
“ Hahahaha..” dia tertawa keras. Tak pelak lagi aku pun ikut tertawa juga. Aku memandang wajahnya yang teduh. Kenapa hati ini begitu kacau ketika bertatapan mata dengannya?
“ Icha!” aku yang lagi asyik menulis merasa terganggu dengan teriakan Alya yang tak kenal tempat itu. “ Icha.. Icha!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“ Ada apa sich?” jawabku setengah jengkel. Alya menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink dan berpita pink juga. Dengan tak sabar ku robek dengan paksa. Aku kecewa ketika didalamnya hanya ada secarik kertas dan tak ada yang lain. Aku nyengir ketika membaca tulisan rapi di kertas tersebut.
Salsabila Anindya Putri. Dengan susah payah aku membungkus kado ini tukmu. Tapi aku sangat kecewa karna kau merobeknya dengan paksa.
Aku tersenyum simpul. Dia sangat tahu kebiasaanku. Aku berjingkat dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Alya yang melihat tingkahku sedikit heran. Ku sibak jendela kamarku dengan cepat. Di seberang jalan, ku lihat seorang cowok sedang memandang ke arah kamar kost-ku. Ketika melihat aku melongok keluar jendela, dia tersenyum. Kak Fadil!
Aku dan kak Fadil sekarang duduk berhadapan. Dua minggu tak ketemu membuatku canggung tuk memulai percakapan. “ Kakak nggak pulang ke Semarang?” aku membuka pembicaraan.
“ Nggak ah. Males. Lagian aku lebih suka ketemu ade’ku yang suka usil ini. Hehe..” tawanya renyah. Aku memandangnya tak mengerti.
“ Kamu kan sering missedcall nggak jelas. Apalagi sampai berpuluh-puluh kali. Di telpon nggak diangkat. Di sms nggak dibales. Itu namanya apa coba, usil kan namanya. Bikin nggak tenang pekerjaan aja.”
Aku benar-benar mangkel. Aku beranjak pergi. Meninggalkannya yang heran dengan sikapku. Aku berjalan-jalan menghirup udara segar. Menikmati pemandangan kota Malang yang sangat aku suka. Dari kejauhan kak Fadil memandangku sambil tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku membeku. Sepersekian detik aku merasakan jantungku ingin meloncat keluar. Aku sekarang dalam pelukan kak Fadil!
“ I miss you Cha!” Dadaku berdebar kencang. Aku hanya butuh kata-kata itu untuk memastikan perasaanku terhadapnya tak bertepuk sebelah tangan. Dia membalik tubuhku dan kini ia dihadapanku hanya beberapa senti. Tangan kokohnya memegang bahuku, menatapku dalam-dalam seakan-akan memastikan aku tak hilang lagi dalam pandangannya.
“ Aku disini karena aku kangen sama kamu Cha. Aku mengatakan ini kepadamu agar kau yakin bahwa perhatian dan kasih sayangku padamu tidak hanya sebatas teman diskusi, sahabat, ataupun kakakmu. Lebih dari yang kau bayangkan. “
“ Maafkan aku kak. Waktu kakak terbuang sia-sia cuma untuk menemaniku. Kakak udah sibuk menyelesaikan skripsi belum lagi kerja di tambah aku yang sering minta tolong ma kakak. Aku benar-benar minta maaf kak.” Airmataku meleleh.
“ Dengerin aku.” ucapnya sambil menyeka airmataku. Menatap matanya yang teduh membuat hatiku tenang sekaligus berdebar tak karuan. Dia tersenyum. Kali ini senyum itu membuatku merasakan rindu, sayang, takut kehilangan, perasaan yang selama ini aku pungkiri pada seorang cowok yang selama ini aku dambakan. Kak Fadil.
“ Aku tak pernah merasa kehadiranmu membuat waktuku terbuang sia-sia. Karena kau adalah motivasiku Cha.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku ingin waktu berlalu lambat dan menghabiskan hari ini bersamanya. Kita duduk di bawah pohon sambil menikmati es kelapa muda.
“ Kak, isi kadonya mana? Kok cuma kertas.”
“ Hehehe.. penasaran ya?” godanya.
“ Ihh, kak Fadil nih. Bikin penasaran orang dosa lho.”
“Sepertinya ketinggalan di kost deh.” ucapnya serius.
“Udahlah. Nggak penting kok. Yuk kak pulang! Hampir jam 3 nih.” ajakku ketika melirik arloji di tangan kananku. Aku beranjak pergi. Cowok tampan itu tersenyum melihat kotak cincin yang dikeluarkan diam-diam dari saku celananya. “ Suatu saat nanti Cha. Tunggulah waktunya,” batinnya.
“ Kak, ayo pulang!” teriakku tak sabar lalu menyambar helm dan memakainya. Dengan cepat kak Fadil memasukkan kotak cincin itu ke dalam sakunya. Dia tersenyum ke arahku. “ Iya sebentar.”
Cinta bukanlah tujuan sejati. Dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu kita sudah mempelajari bahwa hal terbaik yang berhubungan dengan cinta adalah kesediaan untuk memberikan cinta. Hadiah terbaik dalam sebuah cinta adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang serta membantu orang yang kita cintai. Kebahagiaan adalah apa yang kita lakukan bukanlah apa yang kita raih. Kebahagiaan adalah apa yang kita berikan bukanlah apa yang kita terima.